MAKARYA, BUKAN MAKAR, YA! -->

MAKARYA, BUKAN MAKAR, YA!

Selasa, 22 Februari 2022,


MAKARYA, BUKAN MAKAR, YA!


Oleh Agung Marsudi


MAKARYA dibaca makaryo (bahasa Jawa) berarti bekerja. "Bekerja itu kehormatan keluarga," kata orang-orang tua. Satu dari kehormatan keluarga, satu dari kemajuan bangsa, satu dari karakter bangsa, bila rakyatnya "bekerja". 


Tanpa itu sebuah bangsa tak berarti apa-apa. Dengan bekerja, negara punya harapan, penuh cita-cita.


Cita-cita luhur para pendiri bangsa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bertolak dari semangat kerja. Adil dan makmur adalah buah dari kerja. Bukan sebaliknya.


Kerja-kerja pemerintah tak semestinya bertuah perintah. Jadilah, pemerintah kerjanya hanya memberi perintah. "Satu keteladanan, seribu aturan perundangan". Negara melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia.


Ketika warga desa Wadas menolak perintah, lalu berteriak, menuntuk hak, ke rumah negara, yang juga rumahnya, tak semestinya nasibnya berakhir di ruangan dua kali tiga. Sebab memberikan kehormatan kepada yang berhak, adalah kemuliaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab.


Ketika para aktivis bergerak, ingin kembali ke UUD 1945 Asli, tak seharusnya dihadapkan pada tembok tebal keadilan. Lalu atas nama negara disebutlah nama-nama si "makar".


"Makarya, bukan Makar, ya!"


Benda-benda diperoleh dari kerja. Kerja-kerja yang hanya melahirkan benda-benda berbahaya bagi negara. Sejatinya pembangunan adalah kerja-kerja yang melahirkan manusia-manusia. Yang memanusiakan, yang memuliakan.


Memang benar ada lagu "Ganjar-Ganjar"?


Watu, Wadas, Bener, polisi, keras. 

Purworejo, ayo makaryo! 



Solo, 22-2-22





TerPopuler