"Indonesia Murah" -->

"Indonesia Murah"

Senin, 28 Maret 2022,

 

"Indonesia Murah"


Oleh Agung Marsudi


Murni dan tidak murni. Asli dan palsu. Dua kata yang selalu mengiringi madu. Mengikuti politik, dan dagadu.


Padahal yang murni murah. Tak perlu berkilah, tak perlu hujah. Hidup rakyat sudah susah,  pemerintah gak usah banyak tingkah. Cukup yang asli saja. Gak usah dicampur telor.


Indonesia kaya, sejauh mata memandang sawah. Sejauh mata melihat indah. Sejauh mata menandang desa, sejauh mata melihat cinta.


"Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia".


Indonesia tumbuh, Indonesia maju, Indonesia hebat itu hanya slogan genit politik. Sesungguhnya Indonesia itu baik.


Mbak Mlenuk, pak Lurah, Opung, bulik Sri, adalah orang-orang yang menginspirasi mimpi Indonesia jadi kenyataan. Kenyataan pahit Indonesia.


"Meski gudang kekuasaan penuh dengan uang, tapi rakyat tetap gak bisa dibeli". Mereka punya caranya sendiri, mencintai. Mencintai negeri, seperti mencintai dirinya sendiri.


Seperti kata sopir taksi, dari bandara ke Cikini, "kalau Jakarta sudah mulai macet, berarti Jakarta mulai hidup kembali. Indonesia mah ngikut aja".


Mimpi Indonesia di sila kelima, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" harus ditagih ke siapa?


Lembaga tertinggi negara, sudah gak ada.



Jakarta, 27 Maret 2022





TerPopuler