"Elaeis, Menangis!" -->

"Elaeis, Menangis!"

Minggu, 01 Mei 2022,


"Elaeis, Menangis!"


Oleh Agung Marsudi


BELEID larangan ekspor minyak mentah sawit dan lain-lain, sudah tiga hari berlalu. Di tengah hiruk pikuk migrasi penduduk mudik, petani sawit mulai menahan jerit.


Padahal di lapangan, anatominya sederhana. Dimulai dari tiga toke ini. Pertama, toke yang punya kebun, punya PKS, punya Refinery. Dua, punya kebun, punya PKS, yang ketiga punya PKS, gak punya kebun (menampung hasil kebun petani). Yang ketiga ini yang parah, dan biasa bikin ulah. Untuk menghentikan permainannya perlu campur tangan pemerintah.


Pemerintah tak boleh lupa, bahwa selama ini pemilik refinery minyak goreng sawit adalah swasta, bukan negara. Coba dibuka, apa yang terjadi dengan dapur PTPN yang punya PKS, dan kebun dimana-mana?


Bagi petani kecil, urusan sawit berkelindan dengan harga "pupuk dan TBS". Soal untung rugi, mereka sama-sama memaklumi.


Dua puluh tahun terakhir, meski boom sawit, sempat ditantang keras oleh barat, dan para penggiat lingkungan, lalu mengkampanyekan isu, sawit pembawa kerusakan alam, penyebab tambahnya panas bumi, rakus air dan sebagainya. Tapi fakta obyektifnya, sawit menghidupi.


Kontribusi ekonomi sawit bagi negara, luar biasa. Justru, energi fosil yang pelan-pelan mulai ditinggalkan.


Kini di tengah lonjakan harga minyak goreng, yang berbuntut moratorium ekspor, petani sawit justru yang jadi bulan-bulanan. Padahal mereka, tak pernah menjadi bagian dari kebijakan. Tahunya hanya nanam, merawat, memanen dan dijual.


Apa susahnya, bikin harga "stabil". Toh setiap pengeluaran selalu ada, "bill". Bill politik sewajarnya lah, jangan kemaruk. Semua juga tahu, semua ada ongkosnya. 


BPDPKS sembunyi dimana?

Jangan biarkan, elaeis terlalu lama menangis!" Ia airmata petani sawit, Indonesia.



Duri, 1 Mei 2022





TerPopuler