"SAYA YANG PRESIDEN!"

Translate

LEAD

JAM DIGITAL

Print Friendly and PDF

"SAYA YANG PRESIDEN!"



"SAYA YANG PRESIDEN!"


Oleh Agung Marsudi, asal Solo


ADA logat politik baru yang menggelitik, konon ketika Presiden mengundang 7 Ketua Partai politik, serta tandemnya 7 sekretaris jenderal masing-masing partai di Istana Negara. Beredar kabar, ada pernyataan lugas dari Pak Jokowi.


"Saya yang Presiden!" 


Tiga kata, (bukan) tiga periode. Pendek mengena. Sarat makna. Efeknya bisa kemana-mana, hingga ke relung-relung dan piring-piring rakyat yang kosong (dikosongkan).


Q&A : Ketua partai bertanya, Presiden menjawab. Seperti sedang ada f(r)iksi di situ. Di situ-situ. Siapa tahu, muncul juga pertanyaan, "Siapa sih Luhut itu?"


Catatan pendek ini boleh jadi tak substansial. Yang jelas "masuk akal, diterima akal dan ketemu akal".


Masuk di istana, diterima di istana.


Jadi ketemu akalnya dimana, ya di Istana. Hulu hilir seluruh persoalan bangsa ini berada di satu titik. "Istana". Tak ada istilah di sekeliling istana. Politik itu mesti dinamis, harus berada dalam satu tarikan nafas, untuk Indonesia.


Indonesia yang boleh saja diinterpretasikan berbeda oleh setiap warga bangsa, warga negara. Warga kampung, warga lurung. 


Pokok-Pokok Haluan Negara itu bahasa elit di Senayan; fungsi "butuh dan ingin". Butuhnya berapa. Inginnya siapa.


Sehingga jawaban Pak Jokowi, "Saya yang Presiden!" boleh jadi membuat salah satu Ketua partai merajuk. Ingat bahasa wong cilik, "Mateng celuk, moro tapuk".


Sebab sejatinya kata-kata itu memang untuk "wong cilik" bukan untuk orang-orang yang duduk "dingklik".


Rakyat pun suka-suka menerka, siapa sesungguhnya orang-orang yang bakal "didapuk" menemani "Petruk".


"Yang merajuk, kluruk!"



Duri, 7 September 2021