"Ngelabanya" Indonesia! -->

"Ngelabanya" Indonesia!

Senin, 28 Maret 2022,


"Ngelabanya" Indonesia!


Oleh Agung Marsudi


ANAK kecil pun tahu, Senayan bukan tanah suci, tempat para petualang politik ruku' dan berdiri, bercermin menemui dirinya sendiri. Anak kecil pun tahu, Senayan seperti tanah korupsi. Tempat segala yang berbau pasal bisa dijual, ayat ditambah, dikurangi atau dibeli. 


Yang anak kecil tidak tahu, kenapa negeri ini masih percaya trias politica. Bagi-bagi kekuasaan seenaknya. Semua lembaga sama tinggi, yang tertinggi dikebiri. Biar nampak demokrasi, diaturlah forum tertinggi. 


Lalu lahirlah Mahkamah Konstitusi di luar Mahkamah Agung. Mahkamah yang Agung. Sedang Mahkamah Konstitusi, bukan Mahkamah yang Konstitusi. Kalau Mahkamah yang atur-atur Konstitusi, siapa mereka rupanya. Nasib bangsa ditentukan hanya oleh 9 hakim. Dipilih langsung juga?


"Lucunya, Indonesia!"


Sehingga anak kecil pun tertawa. Melihat orang-orang mau diatur, oleh aturan yang disusun oleh bukan pengatur, biar nampak teratur, lalu dibuat peraturan. "Aturan yang bisa diatur". Tak perlu hirarki aturan. Lahirlah aparatur. Khusus untuk TNI/Polri dibuat aturan, mereka gak punya hak pilih, karena membahayakan. Memangnya mereka bukan manusia, yang melekat padanya hak-hak asasinya. Memangnya mereka bukan warga negara.


"Ngelabanya" Indonesia!

Yang diatur-atur rakyat, dikira rakyat gak bisa diatur. Yang membuat aturan, wakil rakyat, dipilih katanya mewakili rakyat, memakai uang rakyat.


Hasilnya rakyat pun tertawa, karena jadi ikutan gila. Katanya, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi Majelis Permusyawaratan Rakyatnya dikebiri atas nama demokrasi (tak diakui darimana diadopsi). Lalu atas nama negara dibuatlah "Komisi-Komisi". Berbagai jenis Komisi.


Amandemen UUD 1945 yang sudah empat kali itu seperti celana panjang bangsa ini, yang dipotong sampai 4 kali, sehingga kalau mau diamandemen lagi, menjadi kain pendek tersisa, penutup kemaluan bangsa. Atau kita sudah sepakat, tidak punya rasa malu lagi.


Demokrasi apa, hingga membuat negeri ini lupa, pada jati diri bangsanya sendiri. "Jangan bilang kita tidak bisa kembali," karena lupa "pulang" ke rumah besar bernama Indonesia.


Kita baru sadar, satu-satunya partai di Indonesia yang memakai kata "demokrasi" hanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tapi ketuanya gak pernah ganti-ganti.


Kita baru sadar, kalau kita punya Rumah Sakit Jiwa di setiap provinsi di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk apa? Setiap lima tahun sekali, menguji siapa calon wakil rakyat, dan para kandidat yang suka sendirian "tertawa".


"Ayo ngguyu (ha-ha-ha)

Ngguyu meneh (ha-ha-ha)

Yen ngguyu yo ojo seru-seru! (Waljinah)


Lucunya negeri kita. Wkwkwk!



Jakarta, 28 Maret 2022





TerPopuler