Disentil-sentil, Disentul-sentul -->

Disentil-sentil, Disentul-sentul

Kamis, 21 April 2022,


Disentil-sentil, Disentul-sentul


Oleh Agung Marsudi


NONTON dagelan orisinal "Angkringan" TVRI Yogya, yang dikemas dalam panggung komedi situasi, menyenangkan sekali. Obrolannya melayarkan berbagai persoalan hidup, secara satire. "Guyonan ning tenanan!"


Nama-nama pemerannya pun nyentrik dan ndeso; ada Dalijo, Pawiro, Vertigo, Sotil, Srundeng, Plenthong, Mbah Kenyut, Mbah Waluyo, Yu Beruk, Trinil, Ciblek, dan lain-lain.


Angkring sendiri, berarti rumbung untuk menjajakan dagangan. Angkringan milik Srundengan dan Sotil tersebut, lalu menjadi tempat mangkal pembeli ngobrol dengan santai membahas beragam soal kehidupan.


Sentilannya seger, dan nyus. Tentang situasi negeri kekinian, disentil dan disentul dengan halus. Disentil-sentil. Disentul-sentul. Yang disentil, tak menggigil, yang disentul tak mbregadhul. Seperti iklan, "Yang penting, happy!" 


Dialognya teatrikal, cair, mengalir, menyihir kewarasan pikiran. Ia tidak hanya tontonan. Tapi potret keseharian kita, lengkap dengan dinamika-dinamika. Ia energi kinetik, hiburan yang menggerakkan.


Daripada disuguhi reka adegan picisan, dunia artis yang jamak setingan, menonton "angkringan" adalah godaan mata yang mencerdaskan.


Edisi terbaru "Tuku Konten" mengingatkan kasus jual beli konten dewasa yang kini berperkara dan melibatkan artis ibukota. 


Kecentilan Sotil dan Trinil. Keluguan Srundeng. Modernitas ala Dalijo. Menertawakan diri kita sendiri, yang makin getir, dan gundah gulana. Kekuasaan, kelucuan dan potongan-potongan gambar, halaman belakang Indonesia.



Yogya, April 2022





TerPopuler