GEOGRAFI KOALISI -->

GEOGRAFI KOALISI

Jumat, 06 Mei 2022,

 


GEOGRAFI KOALISI


Oleh Agung Marsudi


KOALISI di era kepak sayap oligarki yang menyisakan 22 bulan yang menegangkan ini, sebenarnya sudah rapuh. Interaksi spasial berbagai kekuatan atau kepentingan di sirkuit politik nasional tidak sehebat yang dibayangkan.


Persetubuhan, persekutuan, gabungan, blok, liga, perserikatan parpol pengusung pemerintahan Jokowi Jilid 2, murni bagi-bagi kue dukungan kemenangan. Sekedar "upah keringat". Sedang kekuasaannya tak terbagi.


Jokowi, Megawati; "Sakain, indak saragi"


Koalisi asas utamanya manfaat, bukan ideologi. Bauran suara partai di daerah-daerah pemilihan, yang didominasi partai tertentu, tidak serta merta identik dengan kantung pemilih presiden tertentu.


Artinya, waktu pilpres, Jokowi memang menang diusung PDIP, tapi fakta obyektifnya banyak suara pemilih Jokowi yang bukan anggota PDIP. 


Konfigurasi, sebaran, dan tren pilihan, layak dipetakan sebagai modal jualan koalisi, bukan sebatas rekapitulasi perolehan suara. Sehingga tren perilaku pemilih terbaca dan terlihat dengan jelas dan terang. Bukti ada interaksi spasial berbagai kekuatan.


Pengusung, pendukung, penggembira, pemilih belum tentu segaris, dan dinamika politik tidak hanya yang nampak di permukaan. Analisis dan pengaruh big data, menyentuh ranah geografi koalisi pilpres 2024. 


Politik sebagai industri, ia juga matematik. Modal besar, salah hitung, buntung. 


Elektabilitas berhubungan dengan probabilitas. Peluang dan ancaman berada di satu titik. Maka data kemarin, hari ini dan masa depan, sudah tersaji di depan mata.


Itulah nilai pentingnya big data, jika dusta ia bisa menelanjangi wajah demokrasi kita. Yang berdengung itu lebah, ia mudah marah. Deskripsi perilaku pengguna media sosial dan para peselancar aktif di dunia maya, rawan bermuka dasa. Berdasamuka.


"Primadusta pengikut Kurawa!"



Duri, 4 Mei 2022





TerPopuler