KOKOA -->

KOKOA

Jumat, 06 Mei 2022,


KOKOA


Oleh Agung Marsudi


Komunikasi koalisi, selanjutnya disingkat kokoa, harus dilakukan sedini mungkin. Bagi partai-partai yang punya kursi di DPR RI. Apalagi yang kini masih berada di naungan kepak sayap oligarki.


Dua partai di luar koalisi seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat, relatif tanpa beban, karena tidak menjadi bagian dari lunturnya "plat merah" kekuasaan.


Yang lain, terutama tiga partai besar, PDIP, Golkar dan Gerindra, tidak akan murah ketika menawarkan paket "kokoa". Patokan harganya sudah mahal, sebelum dijual. Di lapangan, harga eceran tertinggi, boleh jadi berganti menjadi harga eceran terendah. Politik 2024, menjadi bergairah.


Meski versi mbah Nasir Asy-Syatiri bisa berdarah. Sebab semut ireng, alap-alap (elang Jawa), dan harimau Sumatera menagih janji. Satrio yang dipilih 2024 bisa muncul sendiri karena kehendak rakyat.


Megawati, Airlangga Hartato, dan Prabowo sebagai "Godfathers" tak mungkin duluan memberi tawaran. Politik itu enak, lamak dan lemak. Soal harga sesungguhnya, jamak di bawah meja. Basis hitungnya, perolehan kursi di DPR. Bilangan faktornya, dari biaya penyelenggaraan pemilu KPU.


"It's not just high cooking oil prices

It's a full-blown political crisis"


Pesan mbah Asy-Syatiri:

"Ojo pedhot oyote", itu falsafah komunis. Bangsa ini harus melek sejarah. Banteng betina akan lengser. Ia akan turun karena kehendak alam. Kembali ke peraduan.


Kekuasaan yang mabuk, sibuk mencari, mencuri, menipu, memfitnah adalah politik durjana. Tak boleh tumbuh di tanah pertiwi. "Tak kan Pancasila hilang di bumi".



Duri, 4 Mei 2022





TerPopuler