Oleh Agung Marsudi
Pengamat Geopolitik
Gara-gara jaringan pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada jalur Grissik–Duri (GD) KP222 di Desa Selensen, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau meledak, sudah berhari-hari ribuan pompa angguk di Duri Steam Flood (DSF) mati total. Gak ada yang berani memberitakan. Ada apa dengan media kita?
Berapa kerugian Pertamina Hulu Rokan (PHR) akibat putusnya suplai gas ke Cogen, di Duri, padahal lapangan minyak Duri masih menjadi tulang punggung bagi produksi minyak nasional.
Obyek vital negara, mati total. Hampir dua minggu, masak gak ada yang tahu. Hai media? Kamu dimana?
"Unplanned downtime" seperti ini menyebabkan kerugian finansial yang luar biasa karena hilangnya produksi.
Seperti diketahui, pipa gas PT TGI Regional 2 Belilas juga meledak akibat kebocoran di Desa Tani Makmur, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Jumat (9/1/2026) dini hari. Ledakan ini terjadi setelah pipa gas PT TGI yang sebelumnya meledak di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, baru selesai diperbaiki.
Peristiwa meledaknya jaringan pipa gas Grissik-Duri, DSF, dalam hal ini soal Cogen. Mengingatkan kita akan temuan audit BPK, terkait beberapa KKKS termasuk Chevron (2005).
Temuan BPK yang menonjol saat itu, adanya biaya listrik dan steam yang dimintakan kembali ke pemerintah sejak CPI bekerja sama dengan PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) diragukan kewajarannya dan merugikan pemerintah 210 juta dollar AS serta berpotensi merugikan negara sebesar 1,23 miliar dollar AS. Kemudian akibat transaksi pertukaran duri crude (DSF) dengan gas dari ConocoPhillips yang merugikan Pemerintah Indonesia 4,22 juta dollar AS dan CPI 5,6 juta dollar AS.
Jika pidato presiden Prabowo yang gagah berani ingin menghentikan korupsi di Indonesia. Kasus "gas" meledak dan Cogen layak untuk ditelisik lagi. KPK harus turun gunung. Ini soal mafia dan kerugian negara.
Jakarta, 12 Januari 2026
