Sharing Session Jilid II “Ada Apa Dengan Bengkalis”

Translate

LEAD

JAM DIGITAL

MON

JASA PENGAMANAN

Print Friendly and PDF

Sharing Session Jilid II “Ada Apa Dengan Bengkalis”

 


NUSANTARAEXPRESS, DURI – Kantor Hukum Elidanetti, S.H., M.H., CPLC, kembali menggelar Sharing Session, Sabtu  23 Oktober 2021 di Yeraa Café Jl. Mawar Duri Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.


Pantauan awak media, dalam Sharing Session kali ini kedua kalinya diadakan oleh Kantor Hukum Elidanetti, S.H., M.H., CPLC.  dengan beberapa panelis. Panelis pertama adalah Elidanetti, S.H., M.H., CPLC, sebagai praktisi hukum yang sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya di Provinsi Riau dan tingkat nasional. Panelis kedua adalah Santun Sihombing, beliau adalah salahsatu dari dunia usaha yang terbilang sukses di sektor Migas bukan hanya di Kabupaten Bengkalis, namun sudah skala nasional. Terakhir adalah Erwanto, S.H. adalah Praktisi Hukum dari Badan Usaha Milik Adat (BUMA) dibawah naungan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR).


Terlihat lebih hidup pada acara Sharing Session ini, karena dipandu oleh sahabat saya Agung Marsudi. Jurnalis kawakan  yang sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya di Provinsi Riau dan tingkat nasional yang juga konsen sebagai pengamat Sektor Migas. Bahkan sudah banyak menelurkan ide-ide cemerlangnya dengan menerbitkan buku. Bahkan tulisannya menjadi acuan salah satu Universitas di German.


Terlihat hadir beberapa mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Duri dan tokoh Duri juga pemerhati dari sektor migas..


Sharing Session yang tersusun apik dengan sederhana ini sangat memberikan inspirasi bagi yang hadir. Karena ada beberapa issu yang dibahas bukan hanya terpaku pada materi atau topik yang ada, namun lebih memberikan pandangan-pandangan umum dari sisi hukum dan dunia usaha.


Acara yang ditaja sesuai dengan agenda dimulai pukul 20.00 Wib. dengan tema Ada Apa Dengan Bengkalis (AADB). Issu yang diangkat dalam tema ini adalah seputar Migas dan kearifan lokal.


Panelis pertama Elidanetti, S.H., M.H., CPLC. menyoroti kearifan lokal terkait dengan ketenaga kerjaan.


“Saat ini label Merah Putih sudah 100 % mengelola BLOK ROKAN, yang seharusnya tidak ada lagi hambatan-hambatan yang menyulitkan untuk menkondisikan tenaga kerja secara profesional. Artinya semua wewenang terkait dengan tenagakerja itu sudah tertera di Peraturan Daerah (Perda) No. 4 Tahun 2004 Tentang Penyelenggaraan Ketenaakerjaan. Dan dalam Perda itu sendiri sudah diatur dengan jelas porsi-porsinya. Namun sampai saat ini, masalah tenaga kerja juga masih polemik”.


Sambungnya, “Seharusnya polemik sekianlama yang terjadi memberikan pembelajaran Dinas Keteragakerjaan Kabupaten Bengkalis. Namun sepertinya terulang dan terus terulang kembali kisah pilu anak negeri yang perlu kerja dan butuh pekerjaan harus gigit jari di negeri sendiri”.


“Otoritas semua di tangan kepala daerah, namun kenapa harus terjadi di Kabupaten Bengkalis, khususnya di Kecamatan Mandau yang notabene penyumbang devisa minyak terbesar di negeri junjungan ini. Sangat disayangkan dan sangat ironis”. Papar Elidanetti, S.H., M.H., CPLC.


"Ada Apa Dengan Bengkalis" Jelasnya dengan nada kecewa.


Berbeda dengan Santun Sihombing karnena memang basic nya adalah sebagai pengusaha, walaupun di usianya sudah tidak terbilang muda lagi dan bahkan rambut sudah memutih semua, namun semangatnya untuk membakar hadirin yang ikut dalam acara Sharing Session ini menjadi lebih hidup dengan expresi dan wibawanya.


Dengan gaya yang berbeda dalam penyampaianya, beliau hanya berpesan kepada para hadirin, terkhusus kepada adik-adik mahasiswa. Jangan pernah kendur apa yang dilakukan. Terus jangan melakukan identifikasi, namun lakukan dan lakukan. Intinya adalah action.


Terkait dengan daerah kita yang kaya akan minyak itu bukan di dalam tanah, tapi minyak itu ada di bawah otak. “The oil is not in the ground, but the oil is under the brain”. Jelasnya dengan semangat.


Semangat para hadirin pun terus terbakar dengan kalimat-kalimatnya dengan motivasinya untuk menjadi interpreniur.


Menyikapi keberadaan Blok Rokan dengan segala hiruk pikuk bisnisnya, Santun Sihombing memandang sangat sederhana untuk melakukan agar semua terkondisi. Tentunya terkait Business to bussines.


“Dari segala elemen, kita harus bergandengan tangan untuk bisa menkondisikan agar semua berjalan dengan semestinya. Bagaimanapun saat ini sangat berbeda dengan pengelolaan sebelumnya. Namun semua itu bisa diselaraskan dengan irama yang sama. Bahkan dengan musuh sekalipun kita harus bisa berdansa”. Jelasnya dengan untaian kata yang tersusun apik dan rapi.


Erwanto, S.H., sebagai praktisi dari Badan Usaha Milik Adat (BUMA) menjelaskan panjang lebar bagaimana peran BUMA dibentuk dan BUMA itu sendiri sebagai jembatan bagi semua pengusaha yang ada di Kabupaten Bengkalis.


“Kita dengan tim berupaya akan berperan aktif bagaimana agar kiranya pengusaha-pengusaha lokal ini tetap bisa mengerjakan project-project yang ada sesuai dengan kapasitas dan bidangnya. Memang untuk mempposisikan itu semua butuh waktu dan kami juga terus berbenah agar semua bisa terkondisi dengan semestinya”. Jelas Erwanto, S.H. dengan gamblang.


“Terkait dengan porsi tenaga kerja, kita dari BUMA sendiri sudah melakukan komunikasi dengan pihak PT. Pertamina Hulu Rokan (PT.PHR) dan juga dengan Dinas Keteranagakerjaan Kabupaten Bengkalis. Agar regulasi terkait dengan penerimaan karyawan bisa dilakukan di Kabupaten Bengkalis. Kami sudah melakukan itu dan upaya kita sudah ada, namun semua itu butuh pengawalan agar tidak terjadi hal-hal pengingkaran dalam perjalanannya”. Pungkas Erwanto.


Mislam Samasi sangat berharap kepada BUMA sebagai wadah yang mungkin yang mampu membawa perubahan, khususnya dalam kearifan lokal terkait dengan ketenagakerjaan.


“Dari era tahun 2000 an, masalah ketenagakerjaan sampai saat ini sudah tahun 2021 masih juga sama. Seolah Perda No. 4 Tahun 2004 yang diperuntukkan untuk mengatur ketenagakerjaan tidak berjalan semestinya. Harusnya dengan berjalannya waktu sekian lama dan bergantinya kepala pemerintahan di Kabupaten Bengkalis juga sudah beberapa periode seharusnya ada perubahan yang signifikan. Sampai saat ini juga tidak ada perubahan yang berarti”. Jelas Mislam yang juga sebagai Pemimpin Redaksi NusantaraExpress.


Terkait dengan Blok Rokan, Mislam punya padangan tersendiri.


“Kalau kita masih berkutit dan mengharapkan hasil dari Migas, terlebih lagi jika Kabupaten Bengkalis menabaikan sektoral non Migas sangat disayangkan. Di Kecamatan Mandau sendiri kalau memang mau dengan serius, bisa didirikan tiga Pabrik Tapioka dan itu bisa terkondisi dengan bahan baku yang ada. Bahkan masih banyak usaha-usaha yang bisa dibuat agar tidak ketergantungan dengan sektor Migas. Namun semua itu butuh sinergitas dari semua aspek”. Papar Mislam yang saat ini akan meluncurkan program RUMUS atau Rumah + Usaha bersama tim.


Terakhir dari Aliansi Mahasiswa, mereka saat ini merasa sangat kebingungan, Karena dirasa sudah sulit untuk mempercayai siapapun, dan saat ini siapa yang dapat dipercaya.


“Kami kebingungan dari Aliansi Mahasiswa Duri. Pada saat kami di lapangan, justru kami disuguhi oleh hidangan hiruk pikuk politik yang membuat kami bingung. Namun kami dari Aliansi Mahasiswa akan terus berupaya akan mnghidupkan pos-pos terkait dengan pendidikan. Kami akan membantu mencari solusi ketika di masyarakat menemukan hal-hal yang tidak semestinya”. Ujar Rifki dengan optimis.


Acara Sharing Session ini ditutup tepat pukul 23.30 Wib 


 

Penulis : MISLAM - PPWI



Berita Terkait: 



https://www.nusantaraexpress.asia/2021/10/kantor-hukum-elidanetti-sh-mh-cplc-taja.html