Nakal lah semaumu, dan pulang hanya untuk satu kelapa, bernama Indonesia -->

Nakal lah semaumu, dan pulang hanya untuk satu kelapa, bernama Indonesia

Rabu, 23 Februari 2022,


Nakal lah semaumu, dan pulang hanya untuk satu kelapa, bernama Indonesia


Oleh Agung Marsudi


LANGIT bumi Solo berseri masih biru gelap, meski ada beberapa semburat dari arah Bonoloyo. Catatan pendek ini ditulis dari lantai 5 hotel fave Manahan, Adi Sucipto. Dinihari, sebelum matahari bangun dan manjakan diri.


Baru beberapa paragraf menulis, tiba-tiba ada coretan sahabat lama Pujakesuma (Putra Jawa Keluyuran di Sumatera), multi talenta, enggan disebut namanya, dulu tumbuh dan besar bersama di Solo, mengirimi tulisan edisi "nggrundel", padahal saya mau yang "sindhen ngetren".


Edisi 'nggrundel" itu cerita tentang langkanya minyak goreng, proganda minyak higienis buatan pabrik pengusaha, dengan minyak kelapa hasil tangan para wanita pribumi, ketrampilan tangan yang sudah ribuan tahun, turun temurun.


"Hari ini harga minyak kelapa tradisional 10 kali lipat harga minyak sawit dari pabrik. Tetapi sudah tidak ada generasi yang menekuni pekerjaan itu. Sekarang lagi pada teriak namun juga belum sadar, yang diteriakkan cuma perut. Bukan eksistensi," tulisnya.


"Ketika masyarakat kita masih hidup dengan lifeskill kearifan lokalnya, membuat minyak kelapa sendiri, dibully dengan propaganda para pengusaha kaya, minyak kelapa tradisional itu. Bla..bla..bla...," imbuhnya.


Ingat minyak, ingat kelapa.


Ingat kelapa, jadi ingat Pramuka. Kemarin, Selasa (22/2/22), Hari Bapak Pandu Sedunia, diperingati. Mengenang hari lahirnya Lord Robert Baden Powell.


Ingat kelapa, jadi ingat Sumpah Palapa Patih Gadjahmada, Sunda Kelapa dan lagu "Rayuan Pulau Kelapa". Sebagai bangsa, sepertinya kita hanya senang dengan romantisme sejarah, tapi tidak hidup dengan sejarah.


"Nakal lah semaumu, dan pulang hanya untuk satu kelapa, bernama Indonesia".



Solo, 23 Februari 2022





TerPopuler