"BIG DATA, BIG DUSTA, RIBAK SUDE!" -->

"BIG DATA, BIG DUSTA, RIBAK SUDE!"

Rabu, 13 April 2022,


"BIG DATA, BIG DUSTA, RIBAK SUDE!"


Oleh Agung Marsudi


INGAT Big Data ingat Opung Luhut. Jadi gak malu dengan isu tunda pemilu. Ingat 3 periode, ingat M. Qodari, yang menggaungkan wacana 3 periode untuk pertama kali.


Kedua isu itu kemudian bertemu di kandang ternak tirani. 


Gayung pun bersambut, ketika tiga Ketua Umum Parpol, Golkar, PAN dan PKB, bernada sama, terakhir Apdesi juga ikutan bersuara. Jualan opini di era kepak sayap oligarki, seperti springkle politik yang merata membasahi dan seksi.


Politik, berbasis data. Data, berbasis politik. Mirip, tapi tujuannya jamak berbeda. Karena rawan dicampur sedikit "dusta". Membangun negara, memang harus berbasis data. Soalnya cuma, datanya siapa?


Indonesia kaya data, dan data yang terverifikasi mestinya bisa untuk semua. Tak perlu ditutupi, tak perlu  menyembunyikan maksudnya apa. Sehingga, tak perlu ngegas dengan opini, "yang penting presiden tidak korupsi".


Buntutnya, ketika Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menyambangi Universitas Indonesia (UI), Selasa (13/4/2022) beliau disambut demo sejumlah mahasiswa di Gedung Balai Sidang UI, hingga debat soal big data penundaan Pemilu 2024.


Para mahasiswa memakai baju serba hitam serta membawa spanduk dan bendera kuning.


Spanduk yang dibawanya, bertulisankan "Turut berduka cita Atas Meninggalnya Demokrasi UI dan Indonesia" dan "Potong Bebek Angsa Masak di Kuali, Mana Big Datanya Kok Malah ke Sini. Kok Punya Nyali Gak Tau Diri lalalalalala".


Big data, big dusta, tergantung cara melihatnya pakai kacamata siapa. Kalau opung sama dengan opa, berarti salah data. "Ribak Sude!"



Jakarta, 13 April 2022





TerPopuler