First Things First -->

First Things First

Jumat, 29 April 2022,


First Things First


Oleh Agung Marsudi


PERTAMA yang utama. Buku manajemen waktu ala Stephen R Covey dan rekan ini, mengingatkan kita pada kata "prioritas". Penting, dan mendesak.


Yang penting, tapi tidak mendesak, bisa ditunda. Diatur skala prioritasnya. Itulah kearifan berbangsa dan bernegara.


"Urip iku urup". Hidup itu menghidupi. Indonesia adalah bangsa besar. Cara merawat, dan menjaga kelangsungan hidup banyak orang itu perkara besar. Bukan hanya perkara merapatkan koalisi dalam barisan yang lurus, tapi yang "tulus".


Koalisi yang supermayoritas, tapi gagal menyelesaikan yang prioritas. Berarti koalisinya tak berkualitas. Urusan KTP, urusan sederhana, basis data identitas warga negara saja, dari dulu hingga sekarang pun tak pernah tuntas. Ribut biasanya, menjelang pencoblosan.


"Urusan perut,  ihwal yang sejengkal, lebih vital"


Hajat hidup orang banyak itu dulu dikenal, sandang, pangan, papan. Sampai sekarang mestinya masih menjadi prioritas. Urusan makan, tempat tinggal, pakaian, kesehatan, pendidikan itu bukan soal yang sudah ketinggalan jaman. Dibandingkan pindah ibukota, atau program pembangunan strategis lainnya.


Perlu diingat, sebagian besar kehidupan rakyat Indonesia masih berada di kuadran tiga, minus-minus. Bukan plus-plus seperti di kuadran satu. Siapapun pemenang presiden, dipilih oleh sebagian besar rakyat miskin Indonesia. Jadi, presiden kita adalah presidennya orang miskin, tapi fakta obyektifnya, memberi laluan dan karpet merah bagi orang-orang kaya, yang jumlahnya tak seberapa.


Keadilan sosial bukan untuk orang kaya, tapi bagi seluruh rakyat Indonesia. 


“Leiden is lijden!”. 

Memimpin adalah menderita. Seperti para pendahulu dan pendiri negara, yang tetap hidup sederhana, meski ada hak dari negara. Mereka memberi keteladanan, yang kini kita lupakan.


Utamakan yang pertama, 273 juta perut rakyat Indonesia.



Duri, 29 April 2022





TerPopuler