"Rakyat Kita" -->

"Rakyat Kita"

Jumat, 29 April 2022,


"Rakyat Kita"


Oleh Agung Marsudi


SEORANG wartawan senior (RK) dari media ibukota pagi ini, Jum'at (29/4/2922) mengirimi foto human interest, orang-orang berjubel, duduk di lantai sebuah kapal feri ketika mudik, dengan caption, "Rakyat Kita".


Meski tahu, bahwa satu foto adalah seribu kata, tapi setiap foto tetap harus diberi caption, judul atau keterangan. Biar tambah makna.


"Rakyat Kita" memberi pesan, beginilah nasib rakyat Indonesia. Lelah, tapi pasrah. Rela, apa adanya. "Mudik" ke kampung halaman itu berharga, menuju jalan kebaikan. Mengerti dan memahami jati diri, syajaratun, sejarah, asal-usul. Tafsir Sangkan paran.


Lelah perjalanan, tak apa. Ia bernilai pada damai. Tak berseteru dengan waktu. 


Pulanglah ke "pangkuan ibu Pertiwi". Tanah pusaka yang melahirkan kita. Desa yang melahirkan Indonesia. 


Beberapa hari lagi, lebaran tiba. Takbir, siar kebesaran Tuhan akan menggema di seluruh jagat raya. "Rakyat Kita" tak mau ketinggalan, merayakan cinta itu bersama orang tua, sanak saudara, jiran tetangga.


"Rakyat Kita" bukti kebesaran Tuhan. Mudik, bukan soal udik. Bukan ihwal orang-orang kampung. Mudik, penanda kemanusiaan, kesejatian yang agung, hilir hulu. Ada setangkup rindu. Tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Ia mantra yang menyihir peradaban umat manusia. Ia cinta sesungguhnya. Jalinan rasa, turun-temurun.


Mudik tak pernah berkelindan dengan kekuasaan, ia tak pernah bersinggungan dengan politik dan rempah pencitraan.


"Rakyat Kita" pulang, menjaga tradisi, merawat kasih sayang.



Duri, 29 April 2022





TerPopuler